1.10.2012

Fakta dan Mitos Kerokan

Sekarang sudah musim hujan, pastinya sudah  harus persiapan tissue. Di depan halte busway pun sudah banyak yang jualan tissue yang bisa kita beli untuk sekedar membersihkan kaki yang kotor atau membuang ingus. Selain itu agar tidak meriang dan pegal-pegal karena kehujanan,banyak sekali yang menggunakan metode kerokan.Cara tradisional ini biasanya hanya bermodalkan koin logam yang tipis dan balsem,kecuali bayi biasanya menggunakan bawang merah.  Koin ditekan dan digeser ke permukaan kulit di bagian leher,punggung, dan lengan atas sampai kemerahan tapi ada juga lho yang sampai ungu tapi jeritannya dahsyat -.-" .

Mitosnya nih.. karena angin yang berada di dalam tubuh bisa keluar dengan melakukan proses kerokan sehingga tubuh kita jauh lebih sehat. Faktanya, saat prosesnya terjadi pelebaran pembuluh darah , yang membuat bagian tubuh yang dikerok jadi kemerahan.

Mau tahu apa yang menyebabkan badan jadi terasa lebih enakan dan enteng setelah kerokan? Karena Pelebaran pembuluh darah membuat darah kembali mengalir dengan deras. Penambahan arus darah ke permukaan kulit ini melepaskan hormon endhorpin. Hormon endorphin inilah yang bertanggung jawab membuat kita terasa nyaman. Ketika hormon endhorpin  dilepas, otot yang nyeri karena udara dingin atau kurang gerak mulai berkurang kekakuannya.

Proses kerokan ini sejalan dengan proses akupuntur, asal dilakukan dengan cara yang benar. Dalam mengurangi nyeri dan iritasi kulit, para ahli akupuntur menyarankan agar alat kerok melewati titik akupuntur agar urat saraf motorik terangsang. Agar tidak melukai kulit, lebih baik menggunakan minyak atau balsem.

Secara medis, kerokan akan memperlebar pembuluh darah tepi yang menutup. Selama dilakukan secara benar dan tidak terlalu sering, kerokan dapat mengurangi nyeri otot. Tapi kalau terlalu sering, dapat membuat pembuluh darah kecil menjadi pecah. Lebih baik sih berolahraga ,minum wedang jahe/bajigur/sekoteng kalau badan  mulai terasa berat dan kaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar